Generasi baru unila yang bertumbuh bukan sekedar memperoleh gelar
kampus adalah tempat bertumbuh. bukan sekedar tempat memperoleh gelar. Kuliah di FEB bukan cuma buat cari nilai. Tapi buat bangun masa depan. Jangan cuma bangun nilai. Ayo mulai bangun diri kamu. #FEBGROWING

HARI PERTAMA
Pada hari pertama dan kedua saya mendpatkan jadwal Daring sehingga membuat saya tidk bisa menikmati keseruannya 100% tapi bagiku tidak masalah karna yang Daring juga difasilitasi mulai dari zoom dan siaran langsung sehingga kita juga bisa merasakan keseruan nya, mulai dari mendengarkan materi-materi dari pemateri yaitu mengenai, kampus adalah tempat bertumbuh. bukan sekedar tempat memperoleh gelar. Mengenal Dirimu di Kampus Ini Di hari pertama, satu kalimat Gubernur Lampung menampar dan mengingatkan: "Masuklah sebagai pencari ilmu. Kembalilah sebagai penyelesai masalah."
Di situlah letak perbedaannya. Kuliah bukan tujuan. Kuliah adalah proses.Lampung sedang diuji waktu. Dengan 9,5 juta penduduk dan mayoritas usia produktif, kita masuk bonus demografi sejak satu dekade lalu. Tapi peluang ini tidak panjang. Ia datang telat dan akan pergi lebih dulu dibanding daerah lain. Jika tidak segera diubah, 68% usia produktif itu hanya akan jadi angka. Tapi jika dikelola, ia bisa jadi mesin ekonomi terbesar Lampung. Kuncinya satu: produktivitas.Dan produktivitas lahir dari tanah.
Lampung bukan provinsi biasa. Kita penguasa singkong, nanas, dan lada se-Indonesia. Kita juga 5 besar untuk sawit, jagung, sapi potong, kakao, sampai kopi. Tapi selama ini kita jago menanam, lemah mengolah. Hasil bumi melimpah, nilai tambahnya lari ke tempat lain. Nah, celah itu harus diisi. Oleh siapa lagi kalau bukan riset kampus? Pascapanen, teknologi, rantai distribusi, hilirisasi. Semua itu PR yang menunggu mahasiswa Unila.
Pemerintah sudah buka jalan lewat program seperti KKN "Desaku Maju". Kampus tinggal jalan. Karena mahasiswa hari ini punya 3 mandat baru:
1. Pemicu Ide. Harus berani berpikir beda, melek AI, dan tidak takut gagal.
2. Penjaga Arah. Harus kritis, bersuara untuk keadilan, dan tidak apatis.
3. Penerus Tongkat. Dipersiapkan untuk memimpin Indonesia Emas 2045, dimulai dari beresnya layanan dasar 2025-2029.
Perangnya juga sudah ganti bentuk. Tidak ada lagi adu bedil di perbatasan. Yang ada adu narasi di media sosial. Hoaks, siber, dan paham radikal adalah musuh baru. Maka bela negara hari ini artinya: cerdas menyaring informasi dan berani menciptakan solusi.
"Daerah yang mengatur kebijakan. Kampus yang menciptakan gebrakan." Itu pembagian tugasnya.Grow. Connect. Impact. Tiga kata itu bukan slogan. Itu tuntutan. Di akhir, ijazah hanya selembar kertas. Tapi perubahan yang kamu tinggalkan di desa, di pasar, di ladang Lampung, itu warisan.
Generasi Z lahir di antara 1997–2012. Kami bukan belajar teknologi. Kami tumbuh bersamanya. 27% penduduk Indonesia ada di pundak kami. Itu artinya: kami bisa jadi mesin kemajuan, atau jadi celah terbesar bangsa. Tergantung jempol kita sendiri.Medan perangnya sudah pindah. Dulu bela negara pakai bedil. Sekarang pakai klarifikasi, kode, dan nalar. 6 ancaman nyata hari ini bukan peluru: hoaks yang viral 6x lebih cepat dari fakta, serangan siber ke infrastruktur, perang ideologi lewat feed, algoritma yang mainkan opini, pencurian data, sampai ketergantungan pada teknologi luar.
Ingat: satu klik "bagikan" hoaks = satu luka untuk pertahanan bangsa.Lalu apa tugas kita?
Kementerian Pertahanan bilang ada 5 jiwa bela negara. Bentuknya yang berubah:
1. Cinta Tanah Air = Bangga pakai produk lokal, angkat wisata Lampung ke TikTok
2. Sadar Berbangsa = Ikut demokrasi, tapi juga lawan buzzer di kolom komentar
3. Setia Pancasila = Hadapi narasi radikal dengan data, bukan emosi
4. Rela Berkorban = Jadi relawan literasi digital di desa
5. Kemampuan Awal = Melek keamanan siber dan literasi data
Singkatnya: keyboard hari ini lebih tajam dari senapan. Perbatasan ada di server. Propaganda ada di story.
Cara melawannya? 5 jurus untuk Gen Z Unila:
1. Belajar Sambil Main : Simulasi serangan siber, game mitigasi bencana
2. Otak Dulu Baru Share : Cek fakta, pahami algoritma, jaga data pribadi
3. Bicara Pakai Nilai : Ceritakan Pancasila lewat isu iklim dan ekonomi digital
4. Turun ke Lapangan : Bikin aplikasi untuk petani, riset pangan, jadi relawan
5. Jadi Duta Digital : Lahirkan "Digital Ambassador Pancasila". Kuasai narasi sebelum narasi menguasai kita
Dari Menara Siger 2025 ke Indonesia Emas 2045, kita butuh 5 tipe Gen Z: wirausahawan digital, ilmuwan, pemimpin bersih, guardian digital, dan agen daerah.Polda Lampung sudah kasih kompasnya: CERDAS, AMAN, BERTANGGUNG JAWAB.
Cerdas memakai medsos. Aman dari jerat siber. Bertanggung jawab atas setiap postingan.Oh ya, satu lagi. Narkoba.
UU No. 35/2009 jelas: 4-12 tahun penjara, denda 800 juta - 8 miliar. Tidak ada diskon karena "masih mahasiswa". Narkoba menghancurkan otak, IPK, dan masa depan. Kampus kita tolak. Kita pilih gerakan BERSINAR.Kampus 2026 bukan cuma ruang kelas. Layar HP kita juga ruang kelas.
Dan di dua tempat itu ada 2 hal yang sama-sama menguji kita: kejahatan digital dan godaan AI.
1. Jerat Online yang Paling Dekat dengan Mahasiswa
Ada 3 lubang yang paling sering bikin mahasiswa jatuh:
1. Phishing: Link "beasiswa" atau "pinjaman cepat" yang ujungnya nyedot rekening
2. Judi Online & Pinjol Ilegal: Utang 1 juta, bayar 10 juta. Jalan keluarnya gak ada
3. Cyberbullying: Satu komentar bisa hancurkan mental orang
Ingat: NIK, OTP, password itu bukan buat dibagi. Itu kunci rumah digital kita. Sekali bocor, susah ditutup lagi. Pakai password kuat + 2FA. Kalau ada yang minta data, tanya dulu: "kredibel nggak?"
Dan berdemokrasi juga punya etika. Boleh beda pendapat. Tapi pakai data, bukan makian. Salurkan lewat jalur resmi. Rusuh di jalan atau rusuh di kolom komentar, sama-sama merusak.
2. AI: Partner, Bukan Pengganti Otak
Maba 2026 lahir di era ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya. Pertanyaannya bukan "boleh pakai AI atau tidak".
Pertanyaannya: "Pakai AI dengan cara apa biar tetap jujur?"
AI itu mesin peniru pola. Dia bisa bikin tulisan, gambar, rangkuman dalam 5 detik. Tapi dia nggak punya moral, nggak punya tanggung jawab, dan bisa salah sambil pede banget.
Aturan mainnya simpel: AI-Assisted, bukan AI-Generated.
- AI-Assisted = Kamu yang mikir, AI yang bantu ketik. Kamu tetap cek, edit, dan tanggung jawab
- AI-Generated = Kamu nyerahin semua ke AI. Kamu sendiri nggak paham isinya
Tes cepatnya: Kalau dosen tanya "maksud paragraf 2 apa", kamu bisa jawab nggak?
Kalau nggak bisa, berarti kamu sudah ditinggal AI.
4 Bahaya AI kalau dipakai asal-asalan:
Black-box, Halusinasi, Bias, dan Lepas Tanggung Jawab.
"Garbage In, Garbage Out". Pertanyaan ngaco = jawaban ngaco.
3. Kompetensi NextGen Unila
Mahasiswa masa depan bukan yang paling jago pakai AI. Tapi yang paling jago ngatur AI.
Butuh 6 skill: Bikin prompt yang tajam, paham data, ngerti dasar AI, jaga privasi, punya etika, dan mau terus belajar.
Sebelum klik "submit", tanya ke diri sendiri 5 hal:
Tujuannya benar? Sudah dicek? Sumbernya ada? Ada data pribadi yang kebuka? Aku siap tanggung jawab?
"Di era ini, cepat itu biasa. Yang luar biasa adalah yang tetap jujur, cerdas, dan berani bertanggung jawab atas jejak digitalnya."
Kita boleh pakai AI untuk belajar. Tapi jangan pernah pakai AI untuk menipu diri sendiri.
HARI KEDUA
Dihari kedua saya masih Daring dan di sini saya menonton siaran langsung Mengenal Dirimu di Kampus Ini, Hari pertama kita bicara soal Unila dan Indonesia. Hari kedua kita bicara yang lebih dekat: tentang kamu, dan 4 tahun ke depan.Di sekolah dulu semua sudah disiapkan. Jadwal ada yang bikin, tugas ada yang ingatkan, kalau bolos pasti dicari.
Di kampus beda. Sekarang giliran kamu yang pegang kendali. Tidak masuk kuliah? Tidak ada yang marah. Telat kumpul tugas? Tidak ada yang ngejar. Lulus cepat atau lama, dapat pengalaman atau cuma ijazah, itu pilihanmu sendiri.Kampus ini luas. Lab bisa dipakai, perpustakaan buka, UKM ada puluhan, lomba tiap bulan ada. Tapi semua itu tidak akan datang sendiri. Dia cuma ada untuk yang mau cari.Tiga Tarikan yang Akan Ngejar Kamu Sekaligus
Selama kuliah nanti kamu akan ditarik ke 3 arah:
1. Akademik : IPK, tugas, ujian, paham materi
2. Sosial & Organisasi : komunitas, relasi, kegiatan, pengalaman
3. Diri Sendiri : kesehatan fisik dan mental
Masalahnya bukan milih salah satu. Masalahnya ngebagi waktu. Kejar IPK doang, lulus tapi kosong. Sibuk organisasi terus, kuliah keteteran. Abaikan kesehatan, di tengah jalan bisa drop. Kuncinya: seimbang. Bukan sempurna, tapi jalan terus.Kalau Lagi Susah, Ke Mana?
Unila punya 3 pegangan yang sayangnya baru dicari pas udah mepet:
Pertama, Pusat Konseling & UPA BK.
Tempat curhat profesional. Kalau udah stres, cemas, atau ngerasa sendirian, datang. Gratis dan rahasia.
Kedua, Dosen Pembimbing Akademik.
PA bukan cuma buat tanda tangan KRS. Aturannya, kamu wajib ketemu minimal 3 kali dalam 1 semester. Datang sebelum nilai anjlok. Cerita kendala kamu.
Ketiga, Teman.
Kadang yang paling nolongin bukan lembaga. Tapi satu teman yang ngeh "kok kamu diem aja" dan ngajak ngobrol.
Lulus Bukan Cuma Soal Nilai
Unila dorong mahasiswanya buat keluar kelas. Ada PKM, lomba karya tulis, olahraga, seni, debat, sampai pertukaran mahasiswa.
Bahkan sekarang prestasi itu bisa jadi SKS. Lolos PIMNAS, juara nasional, wirausaha, semua ada hitungannya di Buku Rubrik Pengakuan Prestasi yang sudah disahkan Rektor.
Wakil Rektor Kemahasiswaan pesannya 4: Cari tau passion kamu. Cari mentor. Jangan takut gagal. Dan mulai dari sekarang. Yang nunggu "nanti kalau udah siap" biasanya nggak mulai-mulai.
Setiap tahun di tanggal 10 November, Unila kasih apresiasi buat mahasiswa yang berprestasi di tingkat nasional dan internasional.
4 Tekanan yang Wajar Kamu Rasakan
Maba pasti ngalamin ini:
Kaget sama budaya baru. Kewalahan sama tugas. Takut ketinggalan info dan kegiatan. Terus harus belajar hidup mandiri ngatur duit.
Penawarnya juga 3: Rawat diri jangan nunggu sakit dulu. Berani bilang "tidak" kalau kegiatan udah kebanyakan. Dan peka sama tanda-tanda burnout di diri sendiri.
Minta bantuan itu bukan lemah. Itu bentuk tanggung jawab sama diri.
Soal Biaya dan Narkoba
Buat yang terkendala ekonomi, Unila punya banyak jalur beasiswa. Dari D3 sampai S1, dari semester 1 sampai lulus. Syarat utamanya: ekonomi kurang, punya prestasi, dan tidak sedang dapat beasiswa lain. Ingat, 2 beasiswa sekaligus itu nggak bisa. Info resmi hanya dari Bidang Kemahasiswaan dan tidak pernah dipungut biaya.
Soal narkoba, ada Satgas P4GN. Tugasnya jaga seluruh kampus: mahasiswa, dosen, tendik, semua. Sasarannya bukan cuma pengguna. Pesan intinya satu: berani bilang tidak. Jaga diri, jaga teman, jaga kampus.
Kalau Sakit, Klinik Unila Siap
Klinik Unila buka Poli Umum, Poli Gigi, Poli KIA, Lab, sampai Farmasi. Ada EKG, nebulizer, rawat luka, cek lab dasar.
Buat yang BPJS, Klinik Unila bisa jadi faskes tingkat pertama. Kalau faskes kamu masih di kampung, pindah aja dari sekarang sebelum butuh.
Klinik juga layani cek kesehatan Maba, cek narkoba, buta warna, dan rutin ada penyuluhan kesehatan.mari kita menjaga keseatan bersama-sama.
HARI KETIGA
Dihari ketiga ini saya mendapatkan jadwal luring yang artinya saya bisa melihat dan mengikuti kegiatan secara langsung dengan teman-teman, kakak-kakak tingkat, dan pemateri-pemateri yang hebat.
Lupa jadwal? Mau daftar mata kuliah? Butuh surat? Jangan tanya ke grup angkatan dulu.
Langsung ke 3 tempat ini:
1. Portal One Stop Academic Journey - Ini pusatnya semua info akademik FEB. Satu pintu, udah beres.
2. Website Resmi FEB - Buat info fakultas, pengumuman, kegiatan.
3. SIAKADU - Ini dapurnya. Buat KRS, lihat nilai, urus administrasi.
Mahasiswa yang tau tempatnya, urusan 5 menit kelar. Yang nggak tau, nanya ke temen... terus nyebar info yang salah.
2. Sistem Kuliah: Mainnya Gini
Setahun di Unila ada 3 semester. Ganjil mulai Agustus, Genap mulai Februari. Di tengahnya ada Semester Antara.
Semester Antara ini buat apa? Buat benerin nilai. Khususnya mata kuliah dasar kayak Matematika Ekonomi, Statistika, Akuntansi Pengantar. Kalau nilai E di sini, mata kuliah lanjutannya ketahan semua.
Catatan: maksimal ambil 9 SKS, IPK harus di atas 3,25 kalau mau ambil matkul baru, dan tetep 16 kali pertemuan. Nggak bisa buat yang lagi KKN.
Terus 1 SKS itu apa?
1 SKS = 45 jam kerja selama 1 semester. Tapi 2/3 nya ada di luar kelas.
Artinya tugas kamu: ngerjain soal, baca kasus, latihan excel. Khususnya buat matkul hitungan. Nggak bisa cuma dibaca. Harus digas terus sampai paham polanya.
Buat S1, targetnya 144 SKS selama 8 semester. Rata-rata 18 SKS tiap semester.
Inget ya, molor 1 semester itu rugi. Rugi uang kuliah, rugi biaya hidup, rugi waktu yang harusnya udah kerja.
3. 4 Hal Wajib Sebelum Kuliah Jalan
Jangan sampai kelewat. Kalau nggak dilakuin, nama kamu nggak akan masuk kelas walau tiap hari duduk di bangku paling depan.
1. Bayar UKT
2. Isi KRS di SIAKADU
3. Konsultasi ke Dosen PA
4. Minta Validasi ke PA/Kaprodi
Ketemu PA minimal 3 kali dalam 1 semester ya. Jangan nunggu nilai jelek baru datang. Datang bawa pertanyaan: "Pak, matkul prasyarat apa aja? Kapan waktu yang pas buat magang? Rencana 4 tahun saya gimana?" Sekali konsul yang bener, bisa nghemat kamu 1 semester tersesat.
4. Di Luar Kelas Ada Apa?
FEB nggak cuma ngajarin debit kredit. Ada 5 pilar yang disiapin buat kamu:
Karakter, ORMAWA, Prestasi, Beasiswa, Alumni.
Mau ikut organisasi? Ada 10 lebih. Mau lomba? Ada pendampingan. Mau beasiswa? Ada BI, BAZNAS, BSI, dan lain-lain. Kuotanya ada. Mau wirausaha? Ada Inkubator FEB Mart yang udah nolongin banyak mahasiswa punya NIB.
Mau ke luar negeri juga bisa. Ada Kelas Internasional, Student Exchange, Summer Course. Tapi syaratnya cuma satu: siapin dari sekarang. IPK dijaga, bahasa Inggris diasah. Jangan nunggu semester 5 baru panik.
5. Pertanyaan Dari Wakil Dekan
Jangan nunggu lulus baru mikir kerja. Mulai dari sekarang jawab 5 ini:
Saya suka bidang apa?
Kelebihan saya apa?
Skill apa yang harus saya kuasai?
Pengalaman apa yang harus saya cari?
Siapa yang bisa jadi mentor saya?
Urutannya: BUILD → GROW → EXPLORE → GRADUATE
Penutup: Komitmen Kamu
Kampus udah kasih jalannya. Sekarang giliran kamu yang jalan.
Komitmen anak FEB:
Bertanggung jawab sama studi sendiri.
Belajarnya konsisten.
Jaga IPK dan terus upgrade skill.
Berani coba hal baru.
Bangun masa depan dari semester pertama, bukan semester akhir.
Selamat datang di FEB. Jangan cuma jadi mahasiswa. Jadi mahasiswa yang tau mau dibawa ke mana 3 tahun ini. Karena saya berasal dari prodi D3 Akuntansi.Perbedaan terbesar antara SLTA dan perguruan tinggi bukan pada materinya, melainkan pada siapa yang bertanggung jawab atas belajar Anda.
Dari 45 jam per SKS setiap semester, hanya sepertiganya tatap muka. Dua pertiga sisanya milik Anda.
Bagi mahasiswa FEB, bagian itu berbentuk dua hal yang berbeda watak:
•Mengerjakan soal — matematika ekonomi, statistika, akuntansi. Menonton penyelesaian terasa seperti mengerti, sampai Anda menghadapi soal serupa sendirian.
•Membaca kasus — laporan keuangan, kasus bisnis, kebijakan ekonomi. Ini menuntut ketekunan yang berbeda: memahami konteks, bukan menghafal rumus.
Mahasiswa yang hanya hadir di kelas mengerjakan sepertiga dari yang diminta — dan itulah sebab nilai bisa jatuh meski kehadiran penuh.Pesan Wakil Dekan Bidang Akademik: jangan hanya membangun nilai, bangun diri Anda.
Nilai mengukur satu hal — penguasaan materi pada saat diuji. Dunia kerja mengukur lebih banyak:
•Berpikir kritis dan analitis
•Komunikasi lisan dan tertulis
•Kerja sama dalam tim
•Inisiatif dan kemandirian
•Penguasaan teknologi
Tidak satu pun muncul di transkrip, tetapi semuanya ditanyakan dalam wawancara kerja.
Urutan yang dianjurkan FEB: BUILD → GROW → EXPLORE → GRADUATE. Perhatikan bahwa graduate berada di ujung, bukan di tengah. Kelulusan adalah hasil, bukan tujuan.
Karena itu jangan menunggu semester akhir untuk mulai membangun. Yang dibangun empat tahun tidak dapat dikejar dalam satu semester.Plagiarisme adalah mengambil karya, ide, atau hasil kerja orang lain tanpa pengakuan yang semestinya.
Dua bentuk dasarnya:
1.Tulisan disalin dari orang lain, disebut seolah hasil sendiri
2.Ide orang lain diambil, diakui seolah ide sendiri
Bentuk kedua sering luput. Memparafrase tanpa menyebut sumber tetap plagiat — yang diambil gagasannya, bukan susunan katanya.
Di bidang ekonomi dan bisnis, cakupannya meluas ke bentuk lain: data keuangan, hasil olahan statistik, grafik, model, dan rencana bisnis yang bukan buatan Anda.
Empat langkah pencegahannya: kenali, kutip, akui, ciptakan.
Empat sebab orang melakukan plagiat: tidak tahu, tidak tahu caranya, tidak peduli, dan manajemen waktu yang buruk.
Empat jenis ketidakjujuran akademik:
•Plagiarisme — menyalin atau memparafrase tanpa sumber; memakai gambar, data, dan hasil olahan tanpa sumber
•Penulis bayangan — tugas dibuat orang lain, diganti nama
•Kolusi — disalin dari mahasiswa lain dengan izinnya
•Pencurian — disalin tanpa sepengetahuan pemiliknya
Perhatikan kolusi: yang memberi izin ikut melanggar. Meminjamkan tugas kepada teman bukan kebaikan — keduanya dikenai sanksi yang sama.
Untuk tugas kelompok, batasnya jelas: kerja sama yang ditugaskan adalah kolaborasi; menyalin pekerjaan individu adalah kolusi. Bila ragu, tanyakan kepada dosen sebelum mengerjakan, bukan Bagi mahasiswa FEB, kecerdasan buatan paling menggoda dipakai pada pengolahan data — regresi, peramalan, penyusunan model.
Dua bahaya khusus:
1.Hasil yang tampak benar tetapi salah. AI dapat menghasilkan keluaran statistik yang rapi dari perintah yang keliru. Tanpa memahami asumsi ujinya, Anda tidak akan tahu bedanya.
2.Kesimpulan tanpa pemahaman. Menyalin tafsiran AI atas hasil regresi berarti menyerahkan bagian yang justru dinilai.
Uji sederhananya: bila dosen bertanya "mengapa Anda memakai uji ini, dan apa arti koefisien tersebut?" dan Anda tidak dapat menjawab, maka analisis itu bukan milik Anda.
Prinsipnya: AI boleh membantu berpikir. Jangan menyerahkan pikiran Anda kepada AI.Grafik dan tabel dapat menyesatkan tanpa satu angka pun dipalsukan. Yang perlu dihindari:
•Memotong sumbu agar perbedaan kecil tampak besar
•Memilih periode yang menguntungkan dan mengabaikan sisanya
•Menyembunyikan ukuran sampel yang kecil
•Menampilkan rata-rata tanpa sebaran
•Menyajikan korelasi seolah sebab-akibat
Butir terakhir adalah kekeliruan yang paling sering terjadi di bidang ekonomi. Dua variabel yang bergerak bersama belum tentu saling menyebabkan — keduanya bisa saja dipengaruhi hal ketiga.
Kehati-hatian ini bukan sekadar kaidah akademik. Rekomendasi kebijakan atau keputusan investasi yang dibangun di atas korelasi semu menimbulkan kerugian nyata bagi orang yang memercayainya.Konflik kepentingan disebut tegas dalam Pasal 18 sebagai pelanggaran integritas — dan akan Anda temui lagi dalam mata kuliah audit, tata kelola perusahaan, dan etika bisnis.
Definisinya sederhana: kepentingan pribadi yang tidak diungkapkan dan dapat memengaruhi keputusan yang seharusnya objektif.
Contohnya di dunia kerja: seorang auditor mengaudit perusahaan tempat keluarganya menjadi pengurus; seorang analis merekomendasikan saham yang ia miliki sendiri.
Yang menjadikannya pelanggaran bukan adanya kepentingan itu melainkan tidak diungkapkannya.
Penanganannya selalu sama, di kampus maupun di kantor: ungkapkan lebih dahulu, lalu mundur dari pengambilan keputusan bila perlu.
Kejujuran mengakui posisi sendiri hampir selalu lebih murah daripada ketahuan menyembunyikannya.Lima pertanyaan yang perlu Anda mulai jawab sejak sekarang:
1.Saya tertarik pada bidang apa?
2.Saya punya kekuatan apa?
3.Skill apa yang harus saya kuasai?
4.Pengalaman apa yang perlu saya cari?
5.Siapa yang bisa menjadi mentor saya?
FEB memberi banyak peluang beasiswa, inkubator bisnis, jalur global, kompetisi nasional. Tetapi peluang tidak otomatis menjadi prestasi.
Yang mengisi jarak di antaranya adalah kesiapan: IPK yang terjaga, kompetensi yang dibangun, dan keberanian mendaftar.
Semua itu berdiri di atas satu hal yang dibahas sepanjang modul ini integritas. Kompetensi yang dibangun di atas tugas yang disalin adalah kompetensi yang tidak ada; ijazahnya tetap terbit, tetapi kemampuannya tidak pernah terbentuk.
Perkuliahan di FEB bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik, tetapi juga membentuk masa depan yang berdaya saing dan bermakna. Jangan hanya membangun nilai. Bangun diri Anda. #FEBGROWING
HARI KEEMPAT
Dihari keempat saya sangat senang karna sudah mendapatkan teman baru,ilmu baru,dan mengenal karakter-karakter yang berbeda-beda, namun di tempat kuliah dan di SMA kita memiliki perbedaan apa bedanya yaitu:
Waktu SMA dulu, semua disuapin. Jadwal dibikin, tugas diingetin, PR ditagih.
Masuk FEB, aturannya berubah. Yang tanggung jawab belajar sekarang kamu.
1. Kuliah Itu 1/3 Dengerin, 2/3 Kerja Sendiri
Dalam 1 SKS ada 45 jam kerja. Tapi yang tatap muka sama dosen cuma 15 jam.
Sisanya 30 jam? Itu urusan kamu.
Buat anak FEB, 30 jam itu isinya 2 hal:
1. Ngerjain soal. Matematika Ekonomi, Statistika, Akuntansi. Nontonin dosen ngerjain rasanya gampang. Giliran ujian ngerjain sendiri baru ngeh... blank.
2. Baca kasus. Laporan keuangan, berita ekonomi, studi bisnis. Ini bukan dihafal. Ini harus dipahami konteksnya.
Jadi kalau kamu cuma dateng kelas doang, berarti kamu baru kerja 1/3. Wajar kalau nilai jeblok.
2. Nilai Bukan Segalanya
Pak Wakil Dekan pesannya jelas: jangan cuma kejar nilai, kejar diri kamu.
Kenapa? Karena di dunia kerja nggak ada yang nanya "IPK kamu berapa" doang. Yang ditanya:
Bisa mikir kritis nggak? Bisa presentasi nggak? Bisa kerja tim nggak? Bisa inisiatif? Jago excel nggak?
Itu semua nggak ada di transkrip. Tapi itu yang nentuin kamu keterima kerja atau enggak.
Urutannya di FEB: BUILD → GROW → EXPLORE → GRADUATE.
Lulus itu di paling akhir. Berarti dia hasil. Bukan tujuan. Jangan nunggu semester 8 baru sibuk. 4 tahun itu panjang kalau diisi dari awal.
3. Soal Jujur: Jangan Main-main
Di FEB, plagiat itu bukan cuma copy-paste skripsi orang.
Pinjam tugas temen? Itu kolusi. Nyuruh orang ngerjain tugas? Itu joki. Pakai hasil AI buat regresi tapi nggak ngerti maksudnya? Itu sama aja nyerahin otak kamu.
Tes paling gampang: kalau dosen nanya "kenapa pakai rumus ini?" dan kamu diem, berarti itu bukan kerjaan kamu.
Inget 4 kata: Kenali, Kutip, Akui, Ciptakan.
Dan inget juga: ngasih contekan ke temen itu sama salahnya kayak nyontek.
4. Hati-hati Sama Data dan Grafik
Di ekonomi, angka bisa bohong tanpa dipalsuin.
Grafik dipotong biar keliatan naiknya tinggi. Pakai data yang cuma nguntungin. Bilang "A bikin B" padahal cuma kebetulan.
Ini penting banget. Karena keputusan investasi atau kebijakan yang salah karena data ngawur, itu makan korban beneran.
5. Benturan Kepentingan
Denger kata "konflik kepentingan"? Intinya gini: punya kepentingan pribadi tapi diumpetin pas lagi ngambil keputusan.
Contoh: auditor ngaudit perusahaan keluarganya sendiri.
Solusinya satu: ngaku dari awal. Di kampus dan di kantor aturannya sama. Ngaku lebih aman daripada ketahuan.
FEB kasih kamu beasiswa, lomba, inkubator, sampai kesempatan ke luar negeri. Tapi semua itu nggak akan jadi apa-apa kalau kamu nggak siap.
Yang bikin beda itu 3 hal: IPK dijaga, skill diasah, dan berani daftar.
Dan semua itu harus berdiri di atas satu pondasi: integritas.
Jadi mulai sekarang tanya ke diri sendiri:
Aku suka di bidang apa? Kuatnya di mana? Skill apa yang kurang? Pengalaman apa yang harus dicari? Siapa mentor aku?
Kuliah di FEB bukan cuma buat cari nilai. Tapi buat bangun masa depan. Jangan cuma bangun nilai. Ayo mulai bangun diri kamu. #FEBGROWING
Subscribe newsletter
Dapat email setiap kali deasebrina-2601034014-mhs publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.
Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.
Komentar (0)
Memuat komentar…
Artikel Terkait dari DEA SEBRINA

PKKMB UNILA
Di hari pertama, satu kalimat Gubernur Lampung menampar dan mengingatkan: _"Masuklah sebagai pencari ilmu. Kembalilah sebagai penyelesai masalah."_ Di situlah letak perbedaannya. Kuliah bukan tujuan. Kuliah adalah proses. kampus adalah tempat bertumbuh. bukan sekedar tempat memperoleh gelar. Mengenal Dirimu di Kampus Ini Di hari pertama Kuliah di FEB bukan cuma buat cari nilai. Tapi buat bangun masa depan. Jangan cuma bangun nilai. Ayo mulai bangun diri kamu. #FEBGROWING Tetap Semangat yateman

Manfaat Minuman Nipis Madu untuk Kesehatan dan Imunitas Tubuh
Manfaat Minuman Nipis Madu untuk Kesehatan dan Imunitas Tubuh, nipis madu bukan obat ajaib. Namun dengan bahan asli dan konsumsi rutin, minuman ini bisa menjadi "teman harian" yang efektif untuk menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan secara alami.
Topik Serupa
Bacaan Lain di Blog Unila
Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.